Senin, 03 Januari 2011

Mengapa Gereja Katolik menghormati Maria


Tinjauan Alkitab mengenai Bunda Maria
Gereja Katolik menempatkan Maria sebagai tokoh yang khusus di antara orang-orang kudus serta mendapatkan penghormatan yang istimewa. Penghormatan ini dilakukan karena Maria adalah Ibu dari Tuhan Yesus (Lukas 2:6-7), Maria mengandung bukan dari Yusuf tetapi dari Roh Kudus (Matius 1:18-25), Maria adalah orang yang penuh rahmat (Lukas 1:28-30), Maria sangat setia kepada Allah (Lukas 1:38) dan Maria sangat istimewa dalam kehidupan Yesus (Yoh 19:27).

Dengan demikian, Maria menjadi teladan bagi umat Katolik. Umat Katolik juga percaya bahwa Maria pada akhir hidupnya telah diangkat ke dalam kemuliaan surgawi dengan jiwa dan raga. Sebelum wafat di salib, Tuhan Yesus mengatakan kepada murid kesayangan-Nya sekaligus mengingatkan kepada seluruh umat Kristiani; "inilah ibumu." (Yoh 19:27).

Mei dan Oktober sebagai bulan Maria
Berdasarkan tradisi Gereja, bulan Mei dan Oktober dikhususkan untuk menghormati Bunda Maria dengan berdoa rosario setiap hari. Tradisi ini rupanya sudah ada sejak abad pertengahan, yang mana pada waktu itu orang-orang kafir di Italia dan Jerman sudah mempunyai kebiasaan untuk menghormati dewa-dewi setiap bulan Mei. Ketika mereka menjadi orang Kristen, kebiasaan tersebut tetap dilanjutkan dengan mengganti dewa-dewi menjadi Bunda Maria.

Dalam perkembangannya, Paus Paulus VI (1962-1978) pada tanggal 1 Mei 1965 dengan Ensiklik Marialis Cultus, menegaskan bahwa penghormatan kepada Bunda Maria pada bulan Mei merupakan kebiasaan yang amat bernilai.

Sejarah Perkembangan Penghormatan Kepada Bunda Maria
Pada abad-abad pertama, Maria belum dihormati seperti sekarang ini, dan hanya orang-orang kuduslah yang dihormati karena berkaitan dengan para martir dan rasul yang mengikuti Yesus dalam kematian-Nya. Tetapi dengan merenungkan peran Yesus sebagai Adam baru (Roma 5:12-21), sejak abad II, Maria dipandang sebagai Hawa baru yang ikut membawa keselamatan kepada dunia karena ketaatannya kepada Allah. Hawa yang pertama ditipu oleh ucapan malaikat yang jahat sehingga ia tidak taat kepada Allah dan membawa kematian.

Maria sebagai Hawa baru, perawan yang setia memperhatikan perkataan malaikat Tuhan dengan baik dan karenanya melahirkan sumber kehidupan bagi dunia dengan persetujuannya pada saat Maria menjawab: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." (Lukas 1:38).

Pada jaman Santo Hieronimus dirumuskan: "kematian melalui hawa dan kehidupan melalui Maria." Mulai abad ke-5 dirayakanlah beberapa pesta Santa Maria, dan pada abad ke-6 di gereja-gereja Timur, lagu dan puji-pujian mulai disusun dan gambar Maria dilukis. Sejak abad ke-14, para teolog, sastrawan, seniman, dan seluruh umat berlomba memuji Maria dan mengharapkan pertolongannya, sehingga banyak muncul berbagai bentuk doa atau devosi kepada Bunda Maria, seperti: rosario, doa Angelus Dei, dan ziarah. Kadang-kadang bentuk penghormatan yang diberikan melampaui batas yang sehat dan rumusan pujian lebih puitis daripada teologis.

Devosi kepada Bunda Maria
Devosi kepada Bunda Maria dibela oleh Konsili Nicea II (787) yang mengijinkan gambaran / patung boleh dijadikan sebagai sarana untuk menghormati dia yang digambarkan. Dasar teologis yang sehat untuk penghormatan kepada Maria, adalah Konsili Vatikan II (G 52-69) dan surat Apostolic Marialis Cultus (1974): "Memohon sesuatu dengan perantaraan seseorang apalagi yang kudus khususnya Maria berdasarkan iman Kristiani bahwa mereka yang kini sudah hidup bersama Kristus dalam kemuliaannya, ikut mendukung karya Kristus di bumi ini."

Salah satu pokok devosi kepada Bunda Maria adalah tidak boleh disembah atau dihormati seperti Kristus dan Allah yang disembah. Sebab Maria juga manusia yang ditebus oleh Kristus sejak saat ia masih dikandung ibunya. Jika memasuki gereja Katolik khususnya yang ada di Indonesia, sudah tidak aneh lagi jika pada satu kesempatan, kita dapat menjumpai umat yang sangat menghormati patung Bunda Maria, memang agak aneh, tetapi itu merupakan sebuah kebiasaan yang dilakukannya pada saat sebelum menerima Yesus di dalam kehidupannya dan ini tentunya tidak terlepas dari kultur umat itu sendiri.

Maria meninggal atau diangkat ke surga?
Terdapat banyak berita kuno mengenai Maria apakah meninggal atau diangkat ke surga? Ada yang mengatakan bahwa Maria ikut rasul Yohanes dan meninggal dalam suatu tempat di dekat Efesus. Anna Katharina Emmerik (1772-1824) di Jerman dala suatu penglihatan, melihat puing rumah Yohanes di Efesus, Turki. Tempatnya pada suatu bukit 3 jam perjalanan. Penggalian di tempat itu pada tahun 1891 menemukan pondasi rumah abad I yang pada abad VI sudah diubah menjadi kapel Maria. Tempat itu dihormati orang Kristen dan Muslim. Berita kuno lainnya menguatkan tradisi bahwa Maria meninggal di Yerusalem dekat kebun zaitun dan dimakamkan di sana. Namun, menurut legenda, semua rasul berkumpul di kamar Maria waktu ia meninggal (peristiwa ini diterapkan oleh Santa Brigita dengan membuat tasbih santa Brigita).

Santa Brigita (1300-1373) adalah wanita suci dari Swedia. Salah satu dari delapan anaknya adalah santa Katarina. Tasbihnya terdiri dari 63 butir atau 63 kali salam Maria. Mengapa 63 kali? Menurut cerita, Maria meninggal pada usia 63 tahun dan melihat pengangkatannya ke surga (sebagai dogma ke-4 Gereja) dan diimani oleh semua umat Katolik, bahkan menjadi peristiwa mulia ke-4 dalam doa rosario).

Tidak dikatakan bahwa Maria tidak meninggal, tetapi jelas bahwa tubuh Maria tidak membusuk. Isi dogma ini tidak terdapat secara eksplisit dalam kitab suci. Gereja di bawah bimbingan Roh Kudus yakin bahwa janji mengenai kebangkitan badan semua orang beriman dan persatuan mereka dengan Sang Penyelamat yang bangkit sudah dipenuhi bagi Bunda Kristus yang melahirkan-Nya sebagai manusia dan merupakan murid-Nya yang setia sampai akhir. (Duta, Oktober 2009)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

AddThis

Populer