Jumat, 29 April 2011

Mencari dan Kutemukan

15 Agustus 2006, pada suatu sore yang cerah dengan garis-garis langit yang tipis, kuarahkan pandangan ke sekeliling dari tempatku berdiri memandang jauh lepas ke arah tinggi kokohnya bukit-bukit nan hijau terbalut dedaunan pohon-pohon; sungguh menyegarkan pandangan mata ini. Memandang hijaunya pepohonan dari hamparan pohon-pohon jeruk yang berbaris rapi mengelilingi seluruh areal perkebunan hingga ke tempatku duduk menanti datangnya sang fajar dalam rona warna merah,jingga,dan keemasan.

Kejenuhan dalam bekerja dan hidup ini kadang datang silih berganti, syukur ada begitu banyak teman dan sahabat dekat yang selalu setia satu sama lain berbagi rasa dalam susah senang; seakan-akan semua yang ada di sini adalah sebuah keluarga besar. Kejenuhan merupakan sebuah persoalan yang sering kita hadapi; rasa jenuh itu datang menyelimuti pikiran dan hati ini seperti mendung yang mendatangkan hujan; seperti kabut asap yang mendatangkan sesak nafas ini jika terhirup dalam-dalam. 

Sejenak kuterdiam sambil termenung memandang jauh ke arah perbukitan sebelah utara yang tepat ada di depan pandangan mata ini. Tampak jelas burung-burung gereja mulai terbang kembali ke sarangnya karena hari sudah semakin sore menunggu malam akan datang menggantikan sore. Kurasakan desiran angin yang begitu sepoi-sepoi bertiup menerpa dedaunan pohon dan tubuh ini. Sekejap kusadar dan sungguh kusadari melihat burung-burung yang terbang ; merasakan tiupan angin dan semuanya itu tidak pernah ada rasa jenuh; semuanya dihadirkan alam kepada manusia tanpa rasa jenuh; berputar dan berputar kembali lagi. Ya, kejenuhan datang karena pikiran yang sering kita tutup-tutupi, sehingga alam pikiran ini terkurung dalam rasa yang mati dan hambar seperti garam yang sudah tidak asin lagi.

Kuteringat pada isi Mazmur 42:2-3 yang berbunyi: "Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah? 

Kuberkata dalam hati dengan sungguh-sungguh: "Ya Tuhan, aku merindukan-Mu, dan lihatlah aku di sini" kemudian kuberdiri setelah hampir satu jam lamanya kududuk diatas tangga bangunan monumen yang berdiri megah di atas bukit kecil pada areal perkebunan jeruk. Sepuluh menit kemudian kukembali duduk dan kini mulai kurasakan ada damai dan tenang dalam jiwa; dalam hati; dalam pikiran. Sungguh sebuah ketenangan yang memberikan rasa ringan dan terbebas dari segala kesesakan. Jiwaku sungguh riang dan bersemangat menatap sang fajar yang mulai sedikit demi sedikit tenggelam seakan ditelan oleh bukit gajah di Pemangkat yang berada di sebelah barat dari tempatku berada.

Kedamaian dan ketenangan yang tidak mungkin didapatkan jika kuberada di mall,pasar malam,diskotik,pub,night club,karaoke,dan sebagainya tempat-tempat yang biasanya selalu disesaki orang-orang yang ingin melepas rasa penat dengan caranya masing-masing.

Semakin kutenang, semakin kurasakan bisikan-bisikan lembut yang mendamaikan hati ini, lalu kuberbisik dalam hati: "Ya Tuhan, aku tahu Engkau sungguh sangat mengasihi dan menyanyangi manusia sebagai ciptaan-Mu, namun aku adalah seperti debu jalanan yang kotor dan dekil karena dosa, lihatlah dan bersihkanlah aku jika Engkau lewat dan melihatku dalam keadaanku......"

Engkau menghadirkan malam segera setelah sore Engkau gantikan dan tanpa membeda-bedakan, Engkau memberikan kehidupan ini kepada semua makhluk hidup tanpa menuntut sedikitpun balas jasa (karena kami manusia memang tidak akan mampu membalasnya) apalagi hidup yang Engkau berikan ini sungguh indah jika mau saling menghargai dan saling mengisi satu dengan yang lain.

Aku semakin tenggelam dalam kedamaian batin dan kusadari betapa Engkau, ya Tuhan sungguh ada bersamaku di dekatku dalam kasih-Mu yang mendamaikan jiwa ini. Hingga tak kusadari telah lewat 3 jam lebih lamanya berada di sini dan waktu sudah menunjukkan pukul 6 lewat 15 menit, segera kuberanjak pergi dan turun dari bukit untuk bertemu teman dan sahabat yang pastinya sudah ada di mess sambil nonton acara di televisi (Malaysia dan Indonesia harus pakai parabola) ditambah secangkir kopi plus ubi goreng buatan pak Bambang.....sungguh lengkap. Aku turun dan pulang ke mess dan berjanji dalam hati akan datang lagi.

Rasa damai dalam Tuhan dan kasih Tuhan itu akan mudah ditemukan jika kita mau bersikap tenang dan terbuka serta mengarahkan hati ini kepada-Nya.
(Seberkat estate,Sambas.Sebuah catatan,sebuah renungan.Aug 2006)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

AddThis

Populer